Tampilkan postingan dengan label wedding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wedding. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2010

Mahar dan Peningsetan

Tulisan saya kali ini diambil dari cuplikan2 di http://mudahmenikah.wordpress.com/, sebagai pengetahuan ajah. Untuk lebih lengkapnya silakan untuk membuka website nya secara langsung :)

Peningset atau serah-serahan adalah pemberian dari pihak mempelai pria. Berasal dari kata singset yang artinya ”mengikat”, peningset berarti hadiah yang menjadi pengikat hati antara dua keluarga. Secara adat Jawa, peningset biasanya terdiri atas: satu set daun sirih yang disebut Suruh Ayu, beberapa helai kain jarik dengan motif batik yang berbeda, kain bahan untuk kebaya, ikat pinggang tradisional yang disebut stagen, buah-buahan (terutama pisang), sembako (beras, ketan, gula, garam, minyak goreng, bumbu dapur), satu set cincin nikah, dan sejumlah uang sebagai sumbangsih dari pihak mempelai pria.

Seserahan merupakan simbolik dari pihak pria sebagai bentuk tanggung jawab ke pihak keluarga, terutama orangtua calon pengantin perempuan. Untuk adat istiadat di Jawa biasanya seserahan diberikan pada saat malam sebelum akad nikah pada acara midodareni untuk adat Jawa. Tetapi ada juga yang melakukan seserahan pada saat acara pernikahan. Sekarang, hantaran (peningset) pun bisa ditampilkan dengan lebih kreatif.

Meskipun mahar dan peningset menjadi tanggung jawab mempelai pria, bukan berarti hal ini nggak bisa didiskusikan berdua. Bicarakan apa yang menjadi ganjalan, sebisa mungkin cari solusi yang nggak memberatkan calon suami. Kalau terlalu merepotkan, ada baiknya jumlah dan jenis peningset dikurangi. Sesuaikan dengan kemampuan, jangan malah jadi masalah. Cari yang praktisnya aja, jangan mensyaratkan macam-macam.

Tentang kapan peningset ini diserahkan, menurut adat jawa biasanya diberikan pada malam hari sebelum acara pernikahan. Walau pihak pengantin tidak mengadakan malam midodaren, tapi tetap saja pada malam hari sebelum hari pernikahan diadakan acara silaturahmi, dimana pihak CPP datang ke rumah pihak CPW. Hal ini bertujuan selain untuk menjalin silaturahmi, sekaligus menunjukkan kepada keluarga CPW kalau CPP masih “ada” (nggak kabur) dan masih berniat untuk menikahi CPW. Begitu juga untuk keluarga CPP. Karena sifatnya yang menjadi non formal dan memang bukan malam midodaren, maka tidak diadakan persiapan khusus.

Peningset tidak sama dengan mahar karena mahar adalah sesuatu pemberian suami atas permintaan istrinya, dan merupakan syarat sah pernikahan. Mahar tidak memiliki ketentuan harus dalam bentuk apa dan berapa jumlahnya, tetapi ada ajaran dari Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam menentukan mahar, karena dikhawatirkan akan memberatkan calon suami.

Khusus untuk mahar, disunnahkan yang bermanfaat, ringan, sederhana, dan tidak berlebihan. Hal ini demi kemudahan pernikahan. Rasulullah SAW telah bersabda yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir RA: ”Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah”. Mahar akan disebutkan dan diberikan pada prosesi ijab qobul.

Para wali tidak boleh menetapkan syarat uang atau harta (kepada pihak lelaki) untuk diri mereka, sebab mereka tidak mempunyai hak dalam hal ini, ini adalah hak perempuan (calon istri) semata, kecuali ayah. Ayah boleh meminta syarat kepada calon menantu sesuatu yang tidak merugikan putrinya dan tidak mengganggu pernikahannya. Jika ayah tidak meminta persyaratan seperti itu, maka itu lebih baik dan utama.

Mahar adalah hak murni wanita, dan dalam perkawinan harus ada pemberian harta dari pihak laki-laki terhadap wanita sebagai mahar, adapun jenis dan kadar mahar berbeda-beda sesuai dengan kemampuan. Bentuk atau kadar mahar dalam proses pernikahan, dan keumuman di kalangan kita mahar itu lebih sering disebut dengan ‘maskawin’, dikarenakan keumuman mahar yang sering diberikan adalah sesuatu yang terbuat dari emas, seperti cincin, gelang atau kalung, sehingga disebutlah ‘maskawin yang artinya emas untuk kawin’, akan tetapi istilah ‘maskawin’ untuk sekarang ini menjadi salah kaprah, disebabkan banyak orang yang memberikan ‘maskawin’ berupa seperangkat alat untuk shalat atau berupa uang, sehingga arti dan maksud ‘maskawin’ menjadi tidak relevan dan tidak nyambung lagi. Untuk itu, hendaknya kita yang sudah paham mengembalikan istilah ‘maskawin’ kepada nama yang sebenarnya yaitu ‘Mahar’.

Menghayati arti mahar dan peningset pernikahan yang sesungguhnya mengandung makna sangat mendalam dan tidak sekadar mengukur materialnya. Kesungguhan mempelai pria dalam memberikan peningset (dalam kemampuannya) menyiratkan penghargaannya yang tinggi kepada calon mempelai wanita dan juga kedua orang tuanya. Orang tua mempelai wanita juga akan mendapatkan kesan mendalam, betapa calon mantunya berupaya memberikan penghargaan yang tinggi terhadap anaknya, dalam ketulusan dan wujud terbaik yang bisa diusahakan calon mantunya. Kesan pertama yang setidaknya dapat memberikan kepercayaan bahwa anak gadisnya nanti akan diperlakukan dengan baik.

Selamat siap2 hunting mahar n seserahan buat yang akan menikah... Biarpun capek, menguras tenaga n uang, tapi akan jadi momen yang berharga nantinya.. :)




Selasa, 19 Januari 2010

Arti Menikah

Menikah menurut saya adalah selain menikahkan penggabungan 2 manusia yang berlainan jenis untuk mendapatkan status halal/legal baik secara agama maupun secara hukum, juga berarti menikahkan permasalahan yang dibawa si lelaki maupun si perempuan itu.

So, saat menikah, orang itu mau ngga mau akan menghadapi sedikitnya 3 masalah dalam hidupnya, yang selama hidup melajangnya hanya menghadapi 1 masalah. Pertama adalah masalah yang dibawanya dari sebelum menikah, kedua adalah masalah yang dibawa pasangannya, ketiga adalah masalah yang timbul dari pernikahan itu sendiri.

Menurut saya, menikah tidaklah sesederhana dari yang dibayangkan para pasangan yang dimabuk kasmaran.. Tidak.. tidak hanya cinta yang dibutuhkan didalamnya, melainkan kesiapan mental dan keihklasan untuk menghadapi masalah yang jauh lebih pelik dan kompleks dari masalah yang dihadapinya selama melajang.

Well, tentunya apabila anda berhasil melaluinya anda dianggap layak untuk menuju grade kehidupan yang lebih tinggi.. Seseorang yang belum menikah, telah menikah selama 1 tahun, telah menikah selama 5 tahun dan telah menikah selama puluhan tahun tentunya akan memiliki pola pikir yang berbeda2 dan pastinya akan berbeda tingkat kematangannya. Kenapa? karena semakin lama anda "terjebak" dalam suatu ikatan pernikahan, maka pikiran, jiwa dan mental anda telah terasah dengan berbagai cobaan dan masalah yang menerpa.

Dan tentunya penghargaan yang diberikan oleh masyarakat akan berbeda. Masyarakat akan menganggap derajat anda lebih tinggi dari yang belum menikah. Anggap saja ini sebagai award atas keihklasan anda terjebak dalam 3 masalah atau lebih tersebut.

Namun, apabila anda tidak mampu untuk menghadapi masalah2 itu, tentunya akan ada dampaknya juga.. bisa saja terjadi KDRT, percekcokan ato istilah lainnya perang mulut, dan paling apesnya adalah perceraian.. Well, dampak luasnya adalah predikat yang disandangkan pada status anda sebagai "korban" pernikahan itu.. sebut saja, janda atau duda.. jarang mendapatkan apresiasi yang positif dari masyarakat sebaik apapun sifat anda.

Hahaha.. so, siapkah anda untuk menikah? pikir2 dulu deh sambil matangkan pikiran, jiwa dan mental anda.. karena bukan hanya cinta yang anda butuhkan untuk menikah. Belum tentu saat menikah anda jauh lebih bahagia daripada saat anda melajang.

Selamat "terjebak" dalam pernikahan.. :)

tulisan ini dibuat hanya berdasarkan pemikiran penulis, bisa jadi

Jumat, 15 Januari 2010

Konsep Prewed










Beberapa hari ini lagi seneng buka2 situs tentang konsep prewed.. Wiiih..keren2 deh.. Pengen jadi konsep prewed gw nanti :")